Rabu, 02 Desember 2009

Mujizat apa Mujizat?

Hari-hari ini begitu gampangnya orang-orang ngomong tentang mujizat. Mujizat (atau menyebut dan membicarakan tentangnya) menjadi trend di mana-mana sekarang ini. Sedikit-sedikit mujizat; sedikit-sedikit mujizat (padahal, yang sungguh-sungguh merupakan mujizat itu nyatanya sangatlah sedikit yang betul-betul terjadi!). Sandal jepit yang sudah lama nggak kelihatan, eh, tiba-tiba 'nongol' tepat pada saat yang dibutuhkan... itu katanya mujizat. Sembuh dari penyakit tertentu (padahal mengkonsumsi obat juga atau mendapat dorongan/motivasi dari kata-kata sugesti yang tertentu), juga buru-buru di-klaim sebagai mujizat. Saya cuma mau kasih peringatan begini: Kalau yang kita sebut sebagai mujizat itu sudah "digembar-gemborkan" atau sudah "diobral" dengan sedemikian rupa, apakah hal itu nantinya masih ada maknanya?!

Jadi, saya bukanlah seorang yang anti terhadap mujizat. Dengan mengatakan hal yang di atas itu tadi, saya justru mem-posisi-kan diri saya sebagai seorang pembela untuk mujizat. Nah, sebagai seorang pembela yang baik (dan benar) untuk mujizat itu, saya (dan setiap orang yang juga rindu atau mengaku sebagai pembela mujizat) akan selalu:

1) Menolak atau melawan setiap usaha-usaha (upaya-upaya) yang berlebih-lebihan dan yang membabi-buta untuk menyebut atau meng-klaim hal ini dan hal itu, secara terburu-buru dan sembarangan saja, sebagai mujizat. (Sebab, upaya-upaya yang seperti itu hanyalah akan menjadi suatu promosi yang buruk untuk mujizat itu sendiri nantinya!).

2) Mengenali mujizat dan memahami konsep mengenai mujizat itu dengan tepat dan akurat. Hal ini sangatlah penting, sebab dengan demikian kita tidak saja dapat dengan mantap meng-counter orang-orang yang sepertinya anti terhadap mujizat, tetapi juga supaya kita pun bisa dengan jeli memilah atau memisahkan mujizat yang sesungguhnya dari hal-hal yang hanyalah kelihatannya saja seperti suatu mujizat.

Karena itu, marilah kita sekarang sejenak memperhatikan mengenai apakah sebenarnya mujizat itu? Yaitu, dalam rangka untuk "mengenali mujizat dan memahami konsep mengenai mujizat itu dengan akurat".

Pada umumnya, orang-orang yang sangat antusias dalam membicarakan mengenai mujizat itu sekarang ini tidak memulainya dengan mencari tahu terlebih dahulu mengenai: Apa sesungguhnya mujizat itu? Mereka itu secara langsung saja mengatakan bahwa mujizat telah terjadi di sini, mujizat telah terjadi di sana. Sehingga, seolah-olah hanya dengan menyebut suatu hal itu sebagai mujizat, maka hal itu sudah menjadi mujizat. Karena itu, sebagai para pembela mujizat yang benar, kita harus menjadi jelas dan mantap dulu mengenai hal yang satu ini, yaitu: Apa sebenarnya mujizat itu?

Dari semua definisi yang pernah dibuat selama ini mengenai mujizat, satu hal yang jelas dan yang tidak dapat dikesampingkan adalah mengenai keterlibatan kuasa yang supranatural di dalamnya. Karena itu, secara sederhana, mujizat itu bisa kita buat definisinya di sini sebagai suatu hal atau peristiwa yang hanya bisa terjadi dengan campur tangan dari kuasa yang supranatural.

Sekarang, pertanyaannya begini: Apakah setiap hal atau peristiwa yang "ajaib" bagi kita atau yang tidak/belum bisa kita jelaskan secara masuk akal sekarang ini adalah atau harus kita sebut sebagai telah terjadi karena campur tangan dari kuasa yang supranatural? Kita seharusnya menjawabnya dengan "tidak". Mengapa? Sebab, begitu banyaknya hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang dulu kita atau orang-orang anggap sebagai "keajaiban" atau "tidak mungkin dilakukan oleh manusia" atau "hanya Allah yang bisa melakukannya", ternyata akhirnya diketahui bahwa semuanya itu tidaklah seajaib yang dikira oleh orang-orang sebelumnya.

Sebagai contohnya, kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi di masa kini, telah "membatalkan" amat sangat banyak hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang dipercayai orang-orang pada zaman dahulu sebagai "mujizat". Hal itu seharusnya menjadi pelajaran yang amat berharga dan juga suatu peringatan yang keras bagi kita semua sekarang ini, yaitu agar kita sekarang ini tidak dengan cepat sekali atau secara gegabah menyebut suatu hal atau peristiwa yang tertentu itu sebagai mujizat.

Perlu juga saya tambahkan di sini bahwa dengan menjadi sangat cenderung menyebut suatu hal atau peristiwa itu sebagai mujizat, hal itu sama sekali bukanlah tindakan yang memuliakan Allah (apa lagi, menyenangkan Allah!). Sebab, jika ternyata Allah tidak melakukan hal atau peristiwa tersebut, tetapi kita mengatakan bahwa Allah melakukannya, berarti: 1) Kita sedang atau telah melakukan sesuatu yang bodoh, atau 2) Kita sedang atau telah melakukan suatu kebohongan (dusta).

Dan, satu hal lagi, dengan menjadi sangat cenderung atau sedemikian mudah/gampangnya kita mempercayai suatu hal atau peristiwa itu sebagai mujizat, hal itu bukanlah menunjukkaan (atau menjadikan) kita sebagai orang -orang yang beriman atau memiliki iman yang besar. Tetapi, sesungguhnyalah hal atau kecenderungan yang demikian itu hanya menjadikan kita sebagai orang-orang yang "gegabah dalam beriman". Sebab, menjadi "terlalu mudah percaya" sama sekali bukanlah iman, hal itu hanyalah keluguan (yang cenderung pada kebodohan dan, karenanya, sangat rentan untuk jatuh ke dalam penipuan!).

Jadi, apakah kriterianya supaya suatu hal atau peristiwa itu bisa, secara pantas, kita sebut sebagai mujizat? Untuk menjadi mujizat, suatu hal atau peristiwa itu haruslah terjadi dengan campur tangan dari kuasa yang supranatural (teristimewa, kuasa Allah). Apakah ukuran atau patokannya untuk itu? Apakah, misalnya, karena hal atau peristiwa itu terjadi di antara orang-orang Kristen, yang juga selama ini diketahui bahwa mereka itu memang sangat setia beribadah dan menjalani kehidupan yang saleh? Atau, karena di dalamnya melibatkan seorang tertentu yang selama ini sudah dikenal sebagai seorang yang mendapat karunia mengadakan mujizat? Atau lagi, karena sebelumnya yang dilakukan adalah hanya dengan "mengikuti" sebagaimana yang dikatakan di dalam Alkitab saja (mis: Yak 5:14, Mrk 16:17-18)? Jelaslah, bahwa hal-hal yang bersifat sangat subyektif itu, bukanlah yang dimaksud sebagai ukuran atau patokan yang dimaksudkan itu tadi.

Jadi, apakah yang menjadi patokannya? Memang, harus diakui bahwa tidak mungkinlah untuk menjawab soal ini secara tuntas (terlebih lagi di dalam tulisan yang sesingkat ini). Tetapi, ada satu hal yang bisa kita jadikan sebagai sebuah "pengangan yang aman" di dalam "kawasan" yang "berkabut" ini, yaitu: Terimalah suatu hal atau peristiwa itu sebagai mujizat hanya kalau hal atau peristiwa yang terjadi itu sama sekali tidak mungkin untuk dilakukan oleh manusia. Itu berarti, kalau hal atau peristiwa yang tertentu itu masih mungkin dilakukan (dan direkayasa) oleh manusia, kita tidak boleh sama sekali untuk menerimanya sebagai mujizat.

Dalam hal ini perlu juga untuk mempertimbangkan kekuatan jiwa manusia itu. Banyak sekali orang yang tidak menyadari (dan tidak mau tahu) mengenai hal ini, sehingga hal-hal yang hanyalah merupakan hasil dari kekuatan jiwa manusia itu, ditangkap atau disebut sebagai manifestasi dari kuasa yang supranatural. Sebutlah, sebagai contoh, Ponari, sang "dukun cilik" yang pernah menghebohkan itu. Kalau Anda tanya kepada saya, "Apakah memang ada orang yang disembuhkan ketika datang dan minum air yang dicelupin dengan 'batu sakti' dari Ponari itu?" Jawaban saya: Pastilah ada yang sembuh! Mengapa? Sebab, kalau tidak, maka tidak mungkinlah ribuan orang mau datang dengan berdesak-desakan ke sana.

Tetapi, apakah ada kuasa supranatural yang terlibat di sana (baik dari Allah maupun dari Iblis)? Sama sekali tidak! Hal itu, secara tepatnya, haruslah diterangkan hanya sebagai terkumpulnya kekuatan jiwa dari orang-orang yang hadir di sana, dengan "batu sakti" (yang sebenarnya cuma batu biasa saja) itu sebagai titik temunya, sehingga menghasilkan daya sugesti yang cukup kuat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu yang diderita oleh orang-orang yang hadir di sana. (Note: kata "sugesti" adalah kepunyaan dunia psikologi, bukan kepunyaan dunia mistis/mistik!).

Perhatikanlah bahwa saya memberi penekanan pada frasa "penyakit-penyakit tertentu" di sana. Sangat penting untuk memperhatikan hal ini, sebab di sinilah kita bisa melihat dengan nyata perbedaan antara kekuatan jiwa dan kuasa supranatural itu. Kalau yang bekerja hanyalah kekuatan jiwa, maka kesembuhan yang terjadi terbatas hanya pada penyakit-penyakit tertentu saja, yaitu yang ada kaitannya dengan keadaan kejiwaan dari orang-orang yang bersangkutan. Penyakit-penyakit itu biasa dikenal sebagai penyakit yang bersifat "psiko-somatis" atau yang disebut dengan "penyakit fungsional" (yang dilawankan dengan "penyakit organis"). Hal itu, misalnya: Gangguan lambung/maag, kelumpuhan atau kebutaan yang terjadi karena mengalami stress. Tetapi, tidak akan pernah terjadi ,dengan kekuatan jiwa itu, orang yang sudah lumpuh dari sejak lahirnya kemudian bisa berjalan atau orang yang sudah buta sejak lahirnya bisa melihat. Nah, justru hal-hal yang tidak mungkin dilakukan dengan kekuatan jiwa itulah yang merupakan hasil yang khas dari pekerjaan kuasa yang supranatural.

Terus terang, sebenarnya, saya sendiri, sejak terlibat dalam pelayan Kristen sekitar 20 tahun yang lalu, berada di lingkungan gereja dan yayasan yang beraliran Pentakosta-Kharismatik (bahkan, selama sekitar 10 tahun saya menjadi pendeta yang menggembalakan jemaat di bawah sinode gereja Kharismatik yang terbesar di negeri ini). Tetapi, saya harus mengatakan di sini bahwa, dari apa yang saya amati selama ini, di dalam kebaktian-kebaktian dan dari acara-acara yang lainnya (termasuk, tentunya, KKR-KKR yang besar maupun kecil) mengenai hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang di-klaim atau disaksikan sebagai mujizat, sesungguhnya hanyalah masih berada di dalam kategori yang saya sebut di atas tadi sebagai hasil dari pekerjaan "kekuatan jiwa" belaka. (Saya bisa memahami bahwa pernyataan saya ini sangat tidak dusukai, khususnya, oleh orang-orang yang pernah mengalami sendiri atau menyaksikan sendiri orang-orang tertentu benar-benar sudah mengalami "mujizat-mujizat" tersebut, sebab saya sendiri pun pernah berada dalam posisi yang seperti itu!).

Mengapa saya berkata demikian? Sebab, dari semua laporan atau kesaksian-kesaksian mengenai mujizat itu (yang bisa diverifikasi), tidak satu pun saya dapati (khususnya dalam soal kesembuhan) yang menyangkut kesembuhan dari penyakit yang "organis". (Mungkin perlu dijadikan sebagai catatan: Kalau soal bikin orang "tumbang-tumbang" atau "rebah dalam Roh", "kesembuhan batin", dan "mengusir roh-roh jahat", bagi lumayan banyak orang Kristen di Medan, saya sempat menjadi gurunya. Tetapi, sang guru itu kini sudah insaf, bahwa semuanya itu hanyalah bekerja secara kejiwaan belaka!).

Sebenarnya, masih ada banyak hal lagi yang ingin saya ungkapkan di sini, sebab mengenai soal mujizat ini saya, memang, memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadapnya. Dan, memang, jika terdapat kekeliruan-kekeliruan (di dalam konsep/pandangan) mengenai mujizat, maka sebaiknya orang-orang yang berasal dari latar-belakang Pentakosta-Kharismatiklah yang mengungkapkannya. Alasannya sederhana saja, yaitu: akan lebih enak (tidak terlalu menyakitkan/memalukan) kalau yang mengemukakannya (kekeliruan-kekeliruan itu ) adalah "orang kita sendiri". Dan lagi, "orang luar tahu apa sih, mengenai bagaimana sesungguhnya cara kami dalam melihat permasalahan ini?!" Tetapi, sudahlah, sampai di sini sajalah dulu, soalnya nanti artikel ini jadi terlalu panjang, sehingga esensinya akan sukar untuk ditangkap. (Bagi mereka yang sudah membaca buku saya, "Rumah Tuhan menjadi Sarang Penyamun" sudah tahu kalau saya sebenarnya saat ini juga sedang menulis sebuah buku yang lain, yang judulnya persis seperti judul dari artikel ini. Jadi, untuk pembahasan yang lengkapnya, tunggulah sampai buku ini rampung dan diterbitkan).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar